Ada APa dengaN aBseNsi


TA alias Titip Absen nampaknya telah menjadi budaya negeri ini, khususnya di kalangan mahasiswa. Ga heran deh kalaw korupsi masih terus merebak!Secara kasat mata mungkin emang ga ada hubungannya budaya titip absen dan budaya korupsi, tapi bukankah titip absen adalah korupsi kecil-kecilan?Masa? Ya iyalah…awalnya mungkin hanya mengaku hadir padahal tidak hadir, tapi lama-lama bukan ga mungkin menjadi “mengaku berhak padahal tidak berhak”. Apa coba namanya kalo bukan korupsi?!
Hehe, buat para aktivis yang suka demo di jalan-jalan.Tunggu dulu, jangan lega dulu deh. Mungkin kalian berpikir bahwa semua aktivitas itu kalian lakukan untuk kebaikan negeri ini.Oke, baguslah kalian bergerak untuk mengingatkan Bapak-Bapak yang ada di sana itu.But, bukankah perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri? Kalian mau mengubah negeri, kalian mau memusnahkan budaya korupsi, kalian juga membudayakan titip absen.Hahaha, kalian pasti berpikir bahwa kuliah bukanlah segalanya. Yup, memang betul, tapi kalian juga sudah memutuskan untuk kuliah bukan?Berani berbuat berani bertanggung jawab. So, kenapa mesti titip absen dengan alasan urusan negara itu lebih penting?Capek deh..
Yoilah, memang capek, capek segalanya jika kita mau menjadi orang yang benar-benar BENAR di tengah keporak poranda negeri ini. Setidaknya itulah yang aku alami. Yup, aku mencoba untuk bertahan dengan idealisme “say no To Titip Absen”.Haha, apakah kalian pikir aku ini orang yang cupu (baca: mahasiswa cuma punya teman buku).Itu sih, terserah penilaian kalian. Tapi aku masih punya segudang aktivitas di luar kuliahku. Ga perlu aku sebutin apa aja. Untuk berlaku adil terhadap kedua keputusanku yaitu keputusan untuk kuliah dan keputusan beraktivitas, maka caraku adalah dengan mengoptimalkan “jatah membolos”.Jadi ya, dihitung saja dengan sekian pertemuan dan syarat ujian sekian persen kira-kira aku bisa membolos berapa kali dalam satu semesternya. Metode ini sangat oke,awalnya, dan telah tiga tahun aku jalankan. ALhamdulillah aku tak pernah mendapat masalah hingga siang tadi datanglah kejadian itu..
Bak pertandingan aku harus kalah sebelum bertanding. Hahaha, rupa-rupanya aku sedikit teledor dalam menghitung jatah memolosku sehingga persentase kehadiranku tidak memenuhi syarat ujian. Aku tak mau tinggal diam karena aku merasa benar.Dosen yang bersangkutan saja tau jika dia sering dibohongin. Pernah tuh suatu saat dia menghitung absensi dan ternyata kehadirannya “surplus” banyak. Selama aku masih bisa perjuangkan untuk melawan, maka aku akan melawan. AKu pun mencoba mengikuti satu per satu jalan dalam pengajuan kasus ujian. Tapi, sungguh malang nasibku. Ternyata sistem yang ada telah benar-benar menutup matanya akan sebuah realita. Seperti kebanyakan kasus, ternyata orang-orang di negeri ku tercinta ini hanya senang bermain pada prosedural. Adapun esensinya jarang-jarang didapatkan.
Siang itu ternyata aku menemui gang buntu di tangan seorang pemegang kebijakan pengajaran. Aku menemuinya dengan wajah yang penuh dengan kebanggaan (barangkali dia sangat bangga dengan jabatannya, dengan dirinya yang begitu ideal, perfect, hahaha)..
“Anda mencari saya?”
“Ya pak, maaf saya ingin mengganggu Anda sebentar”
“Ada apa?”
“Maaf pak, saya ingin mengajukan kasus ujian saya”
“Ya kasus apa”
“Saya tidak bisa mengikuti ujian”
“Maaf itu kebijakan universitas, standar mutu, anda ingin bermutu tidak”
Hanya itu. Tanpa tedeng aling-aling dia meninggalkanku dalam kesendirian, dengan berjuta-juta geram.Jelas, aku tak dapat menahan tangisku. Suasana hatiku yang belum stabil karena suatu peristiwa, jelas tak dapat menerima perlakuannya dengan sejuta keangkuhannya itu.Menyebalkan. Aku harus menelan pil kekecewaanku. Jujur saja aku tak butuh nilai. Tapi diperlakukan seperti itu aku seperti dipercundangi. Tak ada penghargaan bagi keistiqomahan. Maaf saja, pernah nggak sih dia berpikir bahwa yang mengisi daftar hadir itu bahkan banyak yang tidak hadir. Toh kekurangan syarat hadirku paling-paling cuma 1-2 kali, aku menjamin tidak lebih dari itu! Atau barangkali itulah wajah birokrasi negeri ini. Boleh jadi tujuannya memang benar, untuk menegakkan disiplin. Ketegasan diperlukan untuk itu. Sampai di titik ini aku masih sependapat. Tetapi perlu diingat bahwa kita bukan robot yang hanya menjalankan program yang telah di-download-kan. Hati dan pikiran masih bisa untuk mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi itulah sunatulloh, jalan kebenaran akan sangat sulit untuk ditempuh. Mungkin, ini adalah ujian bagiku. Kali ini aku memang menemui game over. Hahaha… cuma permainan saja rupanya;p

“Segala sesuatu di kuliah itu sulit. Tapi gak usah dipersulit. Anggap saja kuliah itu bermain game”

2 responses to “Ada APa dengaN aBseNsi

  1. Tak kirain ada film baru?

    Turut berduka cita atas bobroknya sistem…
    juga atas ujian yang ditiadakan. Semoga nilainya masih bisa diselamatkan. BTW, ujian apa yah?

    Dari dulu sebenarnya aku juga sudah bosan dengan sistem. Aku juga dulu pernah kayak kamu, Nur.

    Aku berusaha jujur, ga titip absen sementara temen2 lain sudah terbiasa mengikuti sistem.
    Tetapi ternyata,. sulit untuk mempertahankan idealisme yang merugikan.
    Itu menurutku lo. Karena sistemnya yang “seakan-akan” membolehkan kita untuk melakukannya (kurang dari 75% = OUT!).

    Ingat dulu pas awal2 kuliah kita tetap boleh ujian, meskipun cuma 10% absensi. Saat itu saja, udah banyak temen2 kita yang mbolos dengan atau tanpa titip absen. Dengan adanya sistem ini, diharapkan menghilangkan kebiasaan mbolos. Harapan hanya harapan, kenyataannya justru malah pahit.

    Dosen kebanyakan tidak peduli dengan mahasiswanya. Apalagi seorang pegawai pengajaran yang cuma bisa ngomong tok!
    tanpa solusi…

    Sudahlah, sabar aja. Anggap saja game is not over yet, you has more lives.

    Aku aja jadi males kuliah. Sepertinya mahasiswa memang direkrut untuk diperas uangnya.
    Lihat saja hampir semua peraturan dibuat untuk menyusahkan mahasiswanya.

    Ga boleh ikut ujian lah..
    Ga boleh nginep lah…
    Ga boleh sks lebih lah…
    Ga boleh pinjem buku..
    Ga boleh parkir bawah.

    Bosen……..!

    Maaf kalau omonganku gak sepantasnya.

  2. adeknya mbak nur

    baguslah…
    emang mahasiswa itu sapa?apa trus punya uang bisa bertindak seenaknya?duit yang dikasih ka buat kulaih bukan buat demo..
    kesempatan buat sekolah itu dipakai bukan malah buat mabal..
    mikir dunk..mana tanggungjawabnya,,,
    ga cuma yg suka bolos, tapi yang suka tidur di kelas, sms-an i kelas, ngobrol…
    beuh…

    coba tuk brubah walo susah tp BISA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s