Nikah, Mau?!


Seorang anak perempuan. Katanya sudah dewasa. Ia mengaku ingin menikah, siap menikah. Meski orang-orang di sekitarnya terus memberinya nasihat,”Jangan kira setelah menikah semua masalah akan selesai. Justru akan lebih banyak masalah”. Tetapi apa yg ada di benaknya adalah sama sekali berbeda. Ia sudah merasa kelelahan. Hatinya telah lelah, sampai-sampai ia tak bisa meyakinkan dirinya sendiri tentang penjagaan diri, penjagaan hati.

Ia terus merenung. Setiap waktu ia berpikir. Menimbang. Mendengar lalu berpikir.

Suatu saat, ia pun pernah mendengar. Menikah itu indah, itulah yang dikatakan orang yang ia temui saat itu. Bla, bla, bla… segala kisah romantisme pun dibeberkan. Isinya seolah-olah hanya kesenangan dan keindahan. Sepertinya dunia pernikahan itu benar-benar sangat indah.

Namun sang gadis tak mau berlama-lama dengan mereka. Ia terus melangkah menyusuri jalannya. Ia lalu bertemu dengan orang-orang yang belum menikah di saat usia sudah hampir separuh abad. Sang gadis pun berhenti sejenak untuk mendengarkan sesaat kisah-kisah dari orang-orang tersebut.

Mereka bercerita pula tentang keinginan untuk menyempurnakan separuh dien. Manusiawi. Fitrah. Sangat manusiawi. Namun tak lama kemudian mereka berkisah dengan segala harap yang membumbung tinggi. Idealisme. Seharusnya begini, sebaiknya begitu. Apa yang sudah aku dapat, tak bisa aku tinggalkan begitu saja hanya demi sebuah pernikahan. Laki-laki harusnya begini begitu. Perempuan yang ideal itu…

AH! Terlalu banyak harapan. Terlalu banyak keluhan. Sang gadis pun malas untuk berlama-lama bersama mereka. Segera ia berpamit dengan kesopanan, meninggalkan mereka yang masih saja bersama dengan kebanggaan idealismenya. Sungguh menjemukan. Sang gadis pun meneruskan perjalanannya.

Di saat panggilan adzan, ia pun mampir ke sebuah langgar. Sejenak melupakan dunia. Mencoba khusyu’ menghadap Rabb-Nya.

Di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, ia bersimpuh. Dengan menengadahkan tangan disertai ketakdhiman, ia pun mengadu pada Sang Kholiq,

“Rabb.. Aku tak mau seperti mereka. Aku ingin tetap meyakini bahwa segala yang Kau perintahkan adalah benar dan baik bagiku. Begitu juga dengan syariat pernikahan, syariatmu yang sangat mengagungkanku sebagai wanita. Namun ya Rabb, aku hidup di tengah-tengah kegelimangan dunia. Segalanya menawarkan keindahan. Seringkali hati nuraniku terpojokkan oleh tuntutan. Panggilan Mu yang kudengar menjadi sangat samar karena sekelilingku begitu ramai. Rabb, aku ingin bersikap adil. Juga pada pernikahan. Biarkan kutahu baik dan buruknya agar aku bisa menghadapi segala situasi itu nantinya. Ya Rabb, aku pun memohon berikan kekuatan padaku untuk mempertahankan izzah ku sebagai muslimah sementara Kau belum memberiku saat yang tepat untuk menyempurnakan separuh dienku bersamanya yang telah menjadi pilihanMu.”

Rabbana hablana min azwajina qurrota a’yun. Waj’alna lil muttaqina imaama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s