Kejujuran (1)


KEJUJURAN VS EWUH PEKEWUH

Ewuh pekewuh sebuah adat jawa yang telah menjadi sikap keseharian. Sikap ewuh pekewuh biasanya timbul karena perbedaan, utamanya karena perbedaan kedudukan. Baik secara struktural maupun secara kultural. Misalnya orang muda kepada orang tua, bawahan kepada atasan, dan sebagainya. Namun, terkadang ewuh pekewuh yang telah menjadi sebuah sikap, implementasinya meluas ke mana-mana.
Sebuah adat, bisa lahir dari kebiasaan. Kebiasaan bisa lahir dari pemaksaan, baik yang tujuannya untuk mencapai suatu nilai/norma agar kehidupan ini berjalan lebih baik, atau sebaliknya, sebuah pemaksaan untuk tujuan tertentu, misalnya agar penjajah dengan mudah menjajah suatu bangsa.
Disini aku tidak berbicara jajah menjajah. Aku hanya ingin membahas ewuh pekewuh dalam pengaruhnya terhadap komunikasi pria dan wanita, termasuk dalam hal percintaan. Seperti setiap hal yang ada di dunia ini, ewuh pekewuh juga dapat memberi efek baik maupun buruk. Kita tahu bahwa pria dan wanita adalah makhluk yang berbeda. Bagaimanapun kesetaraan gender digembar-gemborkan di sana-sini, tetap akan terlihat bahwa keduanya adalah makhluk yang bebeda. Demikian juga dalam pola komunikasi. Namun, aku bukan ahli dalam hal ini. AKu tak bisa menjelaskan sangat detail mengenai pola komunikasi perempuan dan lelaki.
AKu hanya mencoba memaparkan beberapa kejadian baik yang aku alami maupun aku dengar dari teman-temanku. Keduanya, pria maupun wanita sering dibuat resah oleh perasaan. Terkadang sebenarnya keduanya memiliki perasaan yang sama akan tetapi harus menelan pil kesedihan karena pada akhirnya tak bisa bersatu hanya karena keduanya ragu untuk berterus terang.
Kejujuran di dalam hal seperti ini memang tidak akan selamanya membawa kemanisan. Diperlukan keberanian yang cukup besar untuk jujur pada perasaan. Keberanian untuk menanggung resiko, apakah itu resiko yang sesuai dengan harapan maupun resiko sebaliknya yang bisa jadi sangat memalukan dan memilukan. Namun, seberapa pahit yang akan diterima, sepertinya akan lebih baik jika kita jujur, setidaknya akan memberikan kelegaan, dan mungkin dapat mengurangi perihnya jika akan datang kepadanya sebuah luka. Yang perlu untuk diperhatikan adalah kejujuran dalam hal ini perlu pula dilihat kondisinya apakah pihak lawan termasuk orang yang moderat atau orang yang masih konvensional. Jika ia masih konvensional, memang sebaiknya tidak usah dilakukan terus terang itu, utamanya jika pihak wanita yang akan menyampaikan.
Aku bicara ini terlepas dari urusan halal dan haramnya pacaran. AKu hanya ingin memaparkan poin tentang kejujuran itu sendiri. Berkaitan dengan hal pacaran, mungkin di lain kesempatan aku akan coba mengutarakan pendapatku.

One response to “Kejujuran (1)

  1. nice blog…
    jadi ewuh pakewuh neeh kalo mau komentar.
    salam dari gresik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s