Jogja Mau Jadi Apa Ya?


Kemarin malam aku berjalan mengelilingi jogja. Sekedar ingin tahu apa saja yang sudah terjadi di kota ini. Nampaknya cukup lama aku tak melihat dunia luar lingkungan kampus. Jalan-jalan makin padat. Makin banyak penumpukan kendaraan bermotor di sana-sini.

Aku melihat di jalan-jalan kota Jogja mulai tumbuh distro-distro, butik-butik, dsb. Kecil, tapi banyak. Pertumbuhan mall di kota ini juga cukup drastis. Ada satu kekhawatiran dalam benakku.

Di kota ini memang dibangun taman pintar. Dikota ini berdiri berjuta perguruan tinggi. Sejak dulu kota ini memang sudah terkenal dengan sebutan kota pelajar. Namun, sekian tahun aku merantau, aku merasakan perubahan yang perlahan tapi pasti. Nuansa kota pelajar mulai memudar. Ketika kaum borjuis ibukota mulai banyak yang tertarik menjadi perantau di kota etnik ini, para pengusaha pun memanjakan dengan berbagai fasilitas pemuas, maka berdirilah mall di sana-sini.

AKu tak sepenuhnya menyalahkan para borjuis itu. Tetapi terus terang saja aku kurang suka dengan orientasi mereka di kampus. Beberapa yang aku temui, mereka sangat “cupu” di kampus. Mungkin kenyamananlah yang membuat mereka tak lagi merasa perlu aktualisasi, pengembangan diri dan pencarian jati diri. Kampus seolah-olah hanya menjadi tempat mencari NILAi. Ya, bahkan yang dicari hanya nilai dan ijazah yang akan menghasilkan uang.

Tidak hanya itu, yang lebih memilukan adalah ketika gaya hidup generasi muda telah sangat jauh dari akar budayanya. Saya sudah malas untuk menjelaskan hal seperti ini. Lebih baik masing-masing dari kita perbanyak instropeksi diri, apakah diri kita masih berpijak pada budaya bangsa kita?

Jogja, jogja, jogja. Tiga tahun lebih aku merantau, tak terasa waktu bergulir sangat cepat. Nampaknya, hatiku mulai terpaut di kota ini. Maka aku pun sedikit cemas dengan perkembangan dewasa ini.
Jogja, selain kota pelajar, banyak seniman dan budayawan terlahir di kota ini. Ketahuilah, cukup banyak sanggar-sanggar budaya di kota ini, adakah kita pernah mengunjunginya?

Ada satu fenomena menarik. Ketika aku posting sebuah undangan GRATIS menonton teater, ternyata tak ada satupun tanggapan. Sebaliknya, ketika di waktu yang hampir bersamaan ada sebuah pengumuman konser musik grup band terkenal yang notabene itu nggak gratis, respon publik sangatlah banyak berdatangan. Adakah ini sebagai indikasi bahwa generasi muda tak lagi mengenal budaya? Atau memang tak lagi mau mengenal karena dirasa kurang menarik dan ketinggalan jaman?

Jawabnya ada di dalam diri kita. Aku dan kau. Jika memang begitu keadaannya, tak patut kita salahkan negeri seberang yang katanya “mencuri” kebudayaan. Barangkali bukan mencuri, justru menyelamatkan. DAripada punah karena tak ada lagi yang tertarik, lebih baik diselamatkan.

?!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s