Kejujuran (2)


Sebagai Wanita, Aku Mengharapkan Kejujuran

Aku seringkali mendengar diantara perbincangan para pria. Mereka sering menertawakan kaum hawa yang mudah sekali diluluhkan hanya dengan rayuan-rayuan sederhana. Apa benar demikian? Wallahu a’lam. Aku sendiri sebagai wanita juga terkadang senang jika ada yang memperhatikan, menyanjung, apalagi memanjakan.

Wanita memang diciptakan dengan perasaan yang halus. Perasaan yang halus sangat diperlukan untuk merawat suami dan mendidik anak-anak. Namun, perasaan yang halus tidak cocok untuk kepemimpinan. Kepemimpinan haruslah dibangun atas ketegasan dan keberanian mengambil resiko meskipun perasaan terkadang diperlukan dalam beberapa pertimbangan. Lo, kok malah bicara kepemimpinan?

Kembali ke topik, tentang wanita yang kata para pria wanita itu lebih senang ‘dibohongi’. Para pria itu berbangga dengan modal kata-kata indah dan perlakuan ‘sayang’, karena dengan itu semua mudah sekali mendapatkan hati seorang wanita. Juga sebaliknya, untuk menjaga perasaan wanita seringkali ‘kebohongan yang indah’ digunakan sebagai senjatanya.

Sekali lagi, aku juga wanita. Akan tetapi, aku berbeda. Sebagai wanita, aku juga akan tersanjung dengan ‘kebohongan -kobohongan’ itu. Namun, aku lebih mengharapkan kejujuran. Bagiku, sepahit-pahitnya kenyataan yang harus aku terima dari sebuah kejujuran adalah jauh lebih melegakan dibandingkan kebahagiaan semu yang aku terima dari sebuah ‘kebohongan’.

One response to “Kejujuran (2)

  1. kejujuran itu kadang pahit.. tapi tetep lebih tulus daripada kata2 manis yang dibuat2.

    setuju noor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s