Kejujuran (3)


Pernikahan di bangun di atas Kejujuran

…..Ada sebuah cerita dari negeri seberang. Tentang pernikahan seorang putri dengan seorang pria sederhana yang bersahaja. Keduanya insya Alloh adalah orang beriman, karena imannya mereka menyegerakan pernikahan. Sang pria tentu saja datang memperkenalkan diri pada orang tua wanita sekaligus menyepakati kapan hari itu akan tiba. Semua berjalan lancar sehingga pada suatu saat berhembuslah kabar bahwa pria itu adalah anak seorang hakim. Itu bukan berita yang begitu buruk memang. Akan tetapi, sang ibu sangat tidak menyukai profesi hakim dan sangat tidak ingin putrinya menikah dengan anak seorang hakim…

Mmm… Menikah memang bukan hal yang sepele meski juga bukan berarti harus dipersulit. Menikah adalah sebuah keputusan besar yang hendaknya dipertimbangkan untuk seumur hidup. Menikah bukan hanya kepentingan dua insan melainkan juga akan melibatkan keluarga kedua belah pihak.

Hal yang akan dicoba dibahas dari anekdot singkat di atas adalah mengenai kejujuran. Kita tahu bahwa sang pria pada cerita tersebut tidak sepenuhnya mengutarakan apa yang seharusnya diutarakan. Padahal, diantara hal yang seharusnya diutarakan yaitu mengenai latar belakang keluarganya adalah hal yang menjadi syarat bagi orang tua wanita. Bahwa ibu sang wanita tidak berkenan terhadap profesi hakim.

Subhanallah…lagi-lagi tentang kejujuran ya. Bisa jadi, sang pria tidak berbohong. Mungkin ia memang sengaja menyembunyikan hal ini dengan kesepakatan berdua agar tak usah beribet berurusan dengan si ibu dari wanita. Cobalah tanyakan pada diri sendiri, apakah hal ini akan menyelesaikan masalah? Dan bagaimana seandainya terjadi sesuatu di kemudian hari yang berkaitan dengan hal tersebut sehingga malah mempertaruhkan umur rumah tangga yang telah di bangun mereka berdua?

JUJUR memang bukanlah hal yang mudah. Tetapi tak perlu kita mempersulit diri atau berkilah bahwa berbohong demi kebaikan itu dibolehkan. Rasul saw juga telah jauh hari terus mengajak umatnya untuk menjaga kejujuran sekalipun itu pahit. Seandainya, sang pria mampu tetap jujur memang akan menjadikan ia menghadapi satu masalah besar yang bisa jadi tak ada jalan menikah bagi keduanya. Namun, dibenarkankah menutupi suatu perkara seperti yang dilakukan oleh sang pria tersebut? Hanya hati yang dapat menjawab ini.

Jika sang pria dapat menaklukan hati si ibu dengan melakukan lobi-lobi tanpa harus membohongi, tidakkah semua menjadi lebih indah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s