Ternyata Aku Akhwat….?!?


Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Akhir-akhir ini aku dipertemukan dengan banyak masalah. Akhir-akhir ini aku pusing memikirkan satu hal. Ikhtilat. Entah, rasa gelisah selalu mengikuti. Galau, resah. Itu yang selalu aku rasakan. Aku mulai tidak nyaman dengan diriku sendiri. AKu tidak nyaman dengan hidupku. Setiap beraktivitas aku merasa telah tersalah.

Aku kuliah di teknik. Teknik Elektro di sebuah universitas negeri di kota gudheg. Insya Alloh kita semua paham bahwa di tempat aku menuntut ilmu, aku termasuk minoritas. Keberadaan kaum hawa di jurusanku sangat terbatas. Oleh karenanya, sebelum aku memulai kuliah aku telah mempertimbangkan, bahwa akan sangat sulit untuk menghindari ikhtilat. Aku pun memutuskan untuk lebih mementingkan dalam menjaga dan mengelola hati daripada berpusing terhadap persoalan bagaimana aku bergaul dengan mereka, para pria.

Aku pun akhirnya sampai pada perumusan sebuah prinsip yang unik. Aku meyakini bahwa prinsip yang aku pegang itulah yang paling cocok untuk aku tegakkan. Aku berkeyakinan, tak mengapa aku bergaul dengan banyak lelaki demi mendapatkan ilmu melalui mereka (agar aku bisa banyak bertanya dan berdiskusi dengan mereka mengenai persoalan perkuliahan yang aku tidak jelas). Aku yakin selama aku masih sendiri tentu prinsip ini tidak akan merugikan siapapun. Dengan catatan aku harus pandai-pandai menjaga hatiku. Lain halnya jika aku sudah menikah, memiliki suami dan berkeluarga. Kelak, aku memang harus beralih prinsip, memutar prinsip yang ‘bebas’ ini menjadi sebuah prinsip ‘suci’ demi keutuhan keluarga, semi manjaga hati suami. Aku benar-benar meyakini hal ini. Aku bertekad jika sudah berkeluarga aku haruslah menjadi seorang muslimah sejati.

Sekian lama aku berjalan di atas prinsip tersebut. Aku aktif melakukan kegiatan ini itu. AKu ikut membuat robot, ikut penelitian bersama para lelaki. Komunitasku pun mayoritas lelaki. Aku berteman dengan almost laki-laki. Sepanjang hal ini aku jalani, aku tidak menemui banyak masalah. Aku merasa baik-baik saja, cukup nyaman. Hingga tibalah suatu saat di mana aku tak dapat menjaga hatiku. Aku tak dapat mengelola sebuah perasaan. Qodarulloh, walhamdulillah.. sejak itu kenyamananku berjalan di atas prinsip yang selama ini aku yakini mulai terganggu.

Semakin lama, aku semakin menemui masalah yang terus bertambah. Aku pun berpikir keras tentang hal ikhtilat ini. Aku mencari kesana-kemari. Bertanya kesana kemari. Masih berharap akan sebuah pembenaran terhadap prinsipku. Aku pun di suatu siang merenung akan hal ini. AKu merenung hingga akhirnya aku teringat akan prinsipku diawal. Aku teringat dengan bagian akhir prinsip. Di mana aku bertekad ‘berubah’ jika sudah berumah tangga nanti. Aku pun berpikir, tentang berumah tangga, tentang menikah. Wallahu a’lam, semoga ALloh memudahkan. Namun, aku tetap belum tau kapan masanya. Masa itu pasti akan datang, biidznillah, tetapi masa itu tidak dapat diprediksikan dengan rumusan tertentu. Waktu kapan aku akan menikah tak dapat dirumuskan sebagai fungsi apapun meski kepastian datangnya insya Alloh akan ada.

Aku berpikir tentang menikah. AKu berpikir tentang perubahan. AKu berpikir tentang waktu. Perubahan memerlukan waktu. Ya, aku tak mungkin mak bedunduk berubah begitu saja saat pernikahanku. Aku pasti memerlukan waktu untuk mengubah diriku terlebih dahulu. AKan tetapi, aku tak punya rumusan yang pasti tentang waktu datangnya saat pernikahan itu. Aku pun sampai pada sebuah kesadaran. Selama ini aku menjalankan prinsipku dengan sedikit mengabaikan kenyataan bahwa aku adalah seorang akhwat, seorang wanita. Aku telah menipu diriku sendiri. Kesadaran itu telah datang kepadaku dengan adanya kegelisahan-kegelisahan yang selalu meliputiku.  Aku pun berpikir, mungkin telah datang saatnya bagiku untuk memulai perubahan itu. Aku tidak ingin lebih lama menipu diriku. AKu akan melakukan penerimaan penuh terhadap diriku sebagai akhwat. Alhamdulillah bahwa Alloh menciptakan wanita dengan berbagai kemuliaan. Aku ingin  berubah. BIsmillah, biidznillah, la haula wa la quwwata illa billah…

10 responses to “Ternyata Aku Akhwat….?!?

  1. akhukum min syimaalisyarq menoreh

    Anti ingin berubah? Ya… Cepatlah berubah!
    Tahukah kapan anti akan mati?
    Ingin dalam keadaan apa ketika anti mati?

    Na’am, lasti ‘araftinii (anti tidak tahu siapa ana)
    Tapi ana tahu siapa anti…
    Tapi ada yang lebih tahu anti…
    dua malaikat pencatat amal
    Tapi ada yang lebih tahu anti…
    Rabb pencipta yang kepadaNyalah kita bertaubat
    Hanya Dialah yang tahu apa yang anti pikirkan ketika anti bercermin… Ya, Dialah yang mengetahui isi hati anti…

    Jika anti merasa telah merasakan hidayah…
    lalu mengapa anti sia-siakan??

    Sibukkan diri anti dengan ilmu yang…
    Anti akan ditanya..
    ditanya di kubur nanti..
    ditanya di yaumul hisab nanti..

  2. Afwan jika anti merasa ana terlalu kasar. Ana sama sekali tidak bermaksud mencemooh Anti…

  3. waduh kalo dinasehati terima aja mba….
    jangan marah gitu7 donk..

  4. Assalamu’alaikum.

    Saya sarankan anti membaca buku yg berjudul “Adab Bergaul: Agar Dicintai Allah kemudian Dicintai Manusia” karya Ustadz Faruq bin Gasim Anuz, penerbit Darul Falah. Sesuai dengan judulnya, di dalam buku ini dibahas adab-adab bergaul seorang muslim/muslimah. Bahasan-bahasannya cukup mudah dipahami dan tidak terkesan menggurui. Insya Allah banyak manfaat yg dapat diperoleh. Semoga bermanfaat.

    Wassalamu’alaikum.

  5. Jazakallah mas wishnu, btw itu webnya sapa?

  6. Assalamualaikum.
    Nongol lagi neh…..!!!!
    wah, blognya ada perubahan nih, makin kece.
    soal tulisan (lebih tepat curahan hati)Nt, emang seharusnya kita mengikuti fitrah hati nurani kita.
    Sebaik-baik manusia adalah yang kembali ke jalan Allah.
    Ga’ perlu nunggu nikah dulu baru berubah, dari sekarang juga bisa (eh…,padahal ane yakin Nt wanita yg baik qok dari awal).
    Ane doain mudah2xan sukses di segala cita2x.
    Assalamu’alaikum.

  7. beli jilbab di albirru aja bisa eceran

  8. perindu syurga

    Assalamu’alaikum…
    bersyukurlah Allah memberi kelembutan hati…
    ia bernama hidayah..
    manifestasinya adalah kesucian fitrah..
    ya…fitrah….
    untuk merasakan titik cahaya illahiyah…
    untuk berpikir..
    merenung..
    dan bertindak!
    ia pun terwujud dalam bashirah…karunia untuk melihat dengan mata hati..
    kini… ia ada di dalam benak anti..
    syukurillah…
    berjuanglah…
    untuk perubahan yang tak kena henti..
    saat ini juga..
    _semoga kita bisa saling mendoakan_
    ( dari perindu syurga yang ingin saudara seimannya ikut merasakan ) insya Allah
    walau kita tak pernah berjumpa…walau kita di pisahkan ratusan kilometer…tapi ikatan iman ini kan selalu terjalin…
    untukmu
    saudaraku…
    bandung…(athens_hammasah@yahoo.com)

  9. Barakallahu fiikum…
    afwan ana dah lama ga update blog,lg mengusahakan tugas akhir,mohon doa dari antum sekalian🙂
    -noor-

  10. Pingback: Istiqomahqoe’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s