DaKwAh ‘GaUl’


Seorang teman berkata padaku,”Akhwat itu harus ‘gaul’, kalaw nggak gaul gimana kami mau deket sama mereka?”

Sungguh menarik, ini adalah bagian dari komunikasi da’i dalam berdakwah. Memang benar, kita menginginkan dapat meneladani para salafush shalih dalam mendakwahkan din ini. Jika saya kemudian berkata bahwa situasi sekarang berbeda dengan dahulu, bukanlah berarti anggapan bahwa cara salafush shalih sudah tak layak. Bukan juga anggapan bahwa tuntunan syariat sudah tak sesuai. Bukan, sama sekali bukan. Apakah lantas memberi seulas senyum untuk berdakwah adalah sebuah kesalahan?(tentunya ini dilakukan pada sesama jenis)

Senyum adalah sebuah contoh sederhana. Seberapa sering kita berwajah berseri, memberi sebuah senyum dan sapaan salam untuk saudari kita? Sepengetahuan saya, yang kerap terjadi adalah kita lebih sering tersenyum dan bersikap super ramah pada teman-teman ngaji kita. Sedang pada teman2 yang kita anggap awam, kita cuek bebek. Padahal, mereka adalah juga objek dakwah. Bahkan kita tak kan pernah tau apakah kita benar-benar lebih tinggi kedudukan di mata Alloh, atau jangan-jangan mallah sebaliknya..

Kembali pada pernyataan teman saya, kita seolah-olah tak punya waktu untuk teman-teman kita. Memang, kita tak boleh menyia-nyiakan waktu, dan idealnya waktu kita hanya kita manfaatkan untuk terus tholabul ‘ilmi. Tetapi apakah tholabul ‘ilmi hanya diartikan secara harfiah? Yang dengannya lantas hari2 kita disibukkan dengan ta’lim-ta’lim atau dengan syuro sana-sini sehingga seolah-olah kita tak pernah punya waktu untuk teman-teman, keluarga juga tetangga kita yang memang belum punya semangat ngaji seperti apa yang kita punya.

Tak ada maksud saya untuk mengartikan gaul di sini lantas kita mengikut kegiatan-kegiatan mereka yang mubah, makhrukh atau bahkan haram. Bukan demikian. Kita punya batasan. Akan tetapi, batasan punya toleransi. Poinnya adalah bagaimana kita mengelola toleransi. Kita memang harus tegas misalnya jika kampung kita mengadakan kenduri desa atau yang semacamnya. Namun, bukan mereka yang salah jika mereka tak mau mendengarkan kita, jika akhirnya kita pun di cap sebagai ‘aliran sesat’. Adalah kesalahan kita, karena kita tak pernah berperan serta dalam kerja bakti, tak mau ikut giliran konsumsi ronda dan semisalnya.

Saat hidayah itu datang, wajiblah bagi kita untuk menyambutnya. Tatkala kita sadar bahwa kita harus berubah, maka berubahlah. Akan tetapi janganlah lantas kita tak lagi menghiraukan keberadaan lingkungan di sekitar kita. Misalnya, bagi akhwat yang nge-kost di kostan umum. Bolehlah jika ia sudah memutuskan bercadar, tetapi janganlah memutus komunikasi dengan warga kost lainnya.

Wallahu a’lam. Jangan berhenti menuntut ilmu, jangan berhenti merenung dan segeralah bergerak. Teruslah berubah menuju kebaikan, lakukan perubahan dengan bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s