Keidealan dan Toleransi


Berbicara tentang komponen serta untai elektronika, pasti tidak terlepas dari pembicaraan mengenai sifat ideal dan toleransi. Ada keidealan, di situ akan timbul eror, yaitu ketika untai tidak lagi bekerja memenuhi keidealannya. Kenyataannya, tak ada komponen maupun untai yang ideal. Untuk itulah diperlukan kontrol feedback (kontrol umpan balik). Umpan balik digunakan untuk mengukur eror guna minimalisasi eror agar untai dapat bekerja mendekati kondisi ideal. Batas-batas di mana eror masih diterima itulah yang nantinya disebut dengan toleransi.
Berbicara tentang diri, hidup, dan kehidupan, tak jauh-jauh dari konsep untai elektronika. Kehidupan yang ideal adalah sebagaimana petunjuk ilahiah yang termaktub dalam Alqur’an dan As Sunah. Dua warisan tak ternilai dari baginda Rasul saw. Namun, hanya Rasul saw yang ma’sum, senantiasa mendapat penjagaan dari Alloh sehingga beliaulah yang paling mendekati ideal. Sedangkan kita, hambaNya yang lemah, umat Muhammad yang berjarak sekian abad dari beliau, tentu saja akan jauh dari kondisi ideal tersebut.
Namun demikian, bukan berarti kita berdiam diri dalam ketidak idealan kita. Sebab masih ada daerah toleransi yang kita bisa usahakan dengan adanya control feedback. Pertanyaan yang kemudian akan muncul adalah di mana daerah toleransi tersebut. Berkisar pada efisiensi berapa dari tolak ukur Qur’an dan Hadist sehingga hidup kita, diri kita masih layak dikatakan berada dalam batasan daerah toleransi tersebut. Hal ini tentunya dapat ditentukan dengan memahami keduanya dengan pemahaman yang benar. Tidak hanya sampai di situ, haruslah kemudian diamalkan dengan baik dan benar secara bijaksana.
Bijaksana. Satu poin baru, bahwa Islam adalah agama yang bijaksana. Maka pengamalannya diperlukan kebijaksanaan. Dakwahnya perlu kebijaksanaan pula. Mendakwahkan Islam di tengah kondisi masyarakat yang seperti ini, adalah seperti membersihkan kaca yang telah tebal debu menempel di atasnya, menutupi permukaannya, sedangkan kaca itu sendiri telah rapuh karena usianya. Membersihkan kaca tersebut perlu cara yang bijaksana, disertai kesabaran yang luar biasa. Jika terburu menggosoknya dengan penuh kekuatan, bisa-bisa kaca itu akan pecah. Akan tetapi, jika kita hanya menggosok sepintas lalu, debu itu niscaya tak akan beranjak.
Pertanyaan kedua yang akan muncul adalah mengenai control, berwujud apakah control umpan balik yang dapat kita terapkan agar kehidupan kita dapat dijaga tetap mendekati ideal? Harus ada control, agar pikir (unsur akal) dan nafs (unsur hati) dapat terjaga dalam bingkai yang akan menghasilkan Akhlaq seorang muslim yang mendekati ideal. Lalu, berupa apakah control tersebut?Inilah yang masih terus aku cari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s