Bersih-bersih


Kamar empat kali tiga meter ini terasa sempit ketika barang-barangku mulai tak beraturan memenuhinya. Cukup lama aku tak merapikan kamarku. Tiga minggu atau bahkan satu bulan. Alasanku klasik, apalagi kalau bukan karena kesibukan. Alhasil, perasaanku pun menjadi tak nyaman berada di kamar sendiri.

Entahlah, jika ditanya kesibukan apa saja yang aku lakoni sampai-sampai aku tak lagi ada waktu untuk membereskan kamarku. Barangkali aku hanya sok sibuk saja. Akan tetapi, setiap harinya aku merasakan kelelahan yang luar biasa. Padahal, aku tidak berlari. Entahlah,aku sendiri bingung untuk menjawabnya.

Ketidakrapian jua ketidaknyamanan bukan hanya aku rasakan terhadap kamarku. Lebih dari itu, hatiku pun demikian. Barangkali aku tak hanya kelelahan secara fisik, tetapi juga secara ruhiah. Hatiku pun lelah, mungkin saja. Ya, aku masih tak mengerti mengapa seolah-olah waktu terus mengejarku. Seolah aku selalu dinantikan seonggokan aktivitas di setiap hari-hariku.

Ta’lim, kuliah, kegiatan kampus, melakukan hobi, berbagi dengan orang-orang sekitar, bertegur sapa, bersilaturahmi, makan, berbagi waktu dengan adik dan keluarga. Ahh, aku kian tak mengerti. AKu merasa tak cukup waktu untuk itu semua. Aku merasa lelah dengan hari-hariku. Aku bingung bagaimana aku harus mengatur waktuku.

Hari ini, aku seharian di kost. Hanya keluar untuk ikut ma’had MPR tadi pagi. Ah, malas ke kampus, batinku berkata demikian. Meski seharusnya aku menyelesaikan robotku dan tadi siang harus menghadiri sebuah rapat, aku tak melakukan itu semua.

Jika kelelahan begini, aku lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah. Ada perasaan yang berbeda. Seperti tadi siang misalnya, aku mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk, lalu sorenya, bangun tidur siang aku lanjutkan menyetrika. Lalu malam ini, aku membersihkan kamarku. Memang semua itu melelahkan, tetapi aku senang melakukannya, ada perasaan yang tak dapat kudeskripsikan memenuhi hatiku.

Bersih-bersih kamar sepertinya sepele, tetapi selalu kuhabiskan waktu yang tak sedikit untuk itu. Mulai dari membenahi pakaian-pakaian di lemari, membenahi penyimpanan jilbab, membenahi buku-buku yang terus saja beranak pinak, hingga membersihkan semua kotoran di ruangan di mana aku melakukan aktivitas sehari-hariku ini.

Aku mencoba untuk meresapi itu semua. Setiap debu yang kusapukan semoga aku pun dapat menyapu noda-noda di hatiku. Membersihkan kamar menciptakan ilustrasi pembersihan hati dalam benakku. Semoga bersihnya kamarku dapat mencerminkan hatiku. Keteraturan pun menciptakan ketenangan dalam menjalani hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s