Di Sana (Aku Tertawa Pun Menangis)


Sebuah ruangan ujung timur lower ground BEM fakultas teknik. Ruangan seukuran kamar kost yang setiap harinya selalu berantakan. Kalau pun kau lihat kerapian di sana hampir dapat dipastikan telah atau akan terjadi sesuatu yang penting. Hanya bertahan sebentar tentunya. Ruangan maskulin yang sebenarnya adalah dua ruangan bersekat papan, tetapi kini telah menjadi satu. Tak ada sentuhan wanita di sana.

Ruangan sempit yang semakin sempit karena barang-barang selalu berceceran di sana. Seringkali dilatari seni tingkat tinggi, saking tingginya, suara-suara merdu dari penghuni ruang di sampingnya bisa membuat kepala pening. Belum lagi jika malam semakin malam, suasana bertambah tak nyaman karena interaksi bebas tetangga manusia-manusia alam.

D i ruangan itu, aku melarikan diri dari serbuan kebosanan kampus, menyepi dari hiruk pikuk perebutan kursi presma. Di sana aku bertemu dengan orang-orang yang semakin menambah khasanah pribadiku. Bersama mereka aku mencari diriku, mencari kebenaran. Beradu mulut, saling mengejek, saling mengkritik, sudahlah biasa. Bukan untuk menjatuhkan, lebih untuk memperkokoh kepribadian. Di ruangan itu, seringkali aku tertawa, tak jarang pula kau dapatkan aku menangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s