Menemui Pakde


Alhamdulillah, satu langkah sudah aku mulai hari yang lalu. Setelah sebelumnya hanya terus menerus bergulat dengan diri sendiri, hawa nafsu yang selalu membujuk pada kemalasan dengan segala alasan. Akhirnya, kemarin aku memberanikan diri menemui beliau.
Pakde, sebuah panggilan untuk beliau yang pertama kali dicetuskan oleh seorang kakak angkatan. Beliau memang tokoh penuh dengan konflik di jurusan. Mungkin bukan konflik tepatnya. Banyak mahasiswa yang tidak menyenangi beliau.Mengherankan memang, padahal beliau begitu baik hati dan bijaksana. Kebiasaan buruk dan kedisiplinan. MUngkin hal itulah yang menjadi sebab ketidaksenangan mahasiswa terhadap beliau. Kebiasaan buruk mahasiswa dalam memikul tanggung jawab bertentangan penuh dengan kedisiplinan beliau sebagai seorang pendidik.
Pendidik. Beliau adalah pendidik, bukan hanya pengajar.Jelas, beliau berbeda dengan dosen-dosen pada umumnya. Memposisikan diri sebagai pendidik, menjadikan beliau tidak hanya bertanggung jawab atas nilai sebagai parameter prestasi siswa. Fokusnya bukan terletak pada hasil. Sebaliknya, proses adalah hal yang jauh lebih penting dari hasil. Di samping itu, nilai, etika, moral sangat dipegang teguh olehnya. Jadi, jelas saja beliau menjadi tokoh yang cukup disegani.
Sebelum mnemui pakde, saya bertemu dengan seorang mahasiswa s2. Lagi-lagi saya mendapat pertanyaan yang sudah bosan untuk saya jawab,
“Gimana dek, bimbingan dengan pakde?”
“Gimana apanya?”
“Ya selama ini kan banyak berita simpang siur tentangnya”
“Ahahaha…itu terlalu berlebihan, biasa saja kok, kalaupun dia memberi tugas dan menuntut yang semacamnya itu wajar, demi kebaikan kita malah.”
Begitulah, selalu orang-orang menanyakan tentang beliau. Tentang pakde. Saya sendiri heran mengapa berita-berita yang ada bisa jadi sangat mengerikan sepeti itu.
Sesaat kemudian aku pun meninggalkannya menemui pakde. Aku bertanya tentang hal-hal sepele yang memang aku belum menguasainya. Santai saja. Semua mengalir tenang. Beliau menjelaskan dengan rinci apa-apa yang aku ingin tau. Mmmm.. andai mereka yang berkata ini itu tentang pakde bisa menyaksikan ini, niscaya “kengerian” terhadap pakde pun sirna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s