Hunting DPL


Tiga hari yang lalu adalah hari yang super sibuk. Aku berkelana dari kampus ke kampus. Bukan untuk mencari referensi melainkan mencari seorang dosen yang bersedia menjadi DPL program kkN kami.

Sebelumnya di jurusanku sendiri aku berusaha mengingat satu per satu dosen yang ada. Akan tetapi,aku tak menemukan orang yang kurasa tepat. Mulai dari dosen senior, semua dosen senior di jurusan adalah dosen yang jam terbangnya tinggi. Tidak, tolak kata hatiku. Lalu, dosen-dosen tanggung, mmm..kebanyakan dari mereka adalah dosen proyek. Aku ragu dengan semangat kemanusiaannya. Adapun dosen-dosen muda masih tugas belajar di luar negeri.

Ada satu. Dosen baru. Muda, bersemangat, terbuka, nampaknya cocok untuk dijadikan dpL.Aku bersama seorang temanku pun menemuinya. Tak ada di ruangannya pun kami tunggui sampai dia datang. Lalu, kami pun mengutarakan maksud kami tentang DPL itu. Dengan sedikit kebingungan, dia pun menyanggupi dengan senyuman. Senyum yang lucu, tapi aku yakin itu tulus. Belum, masalah kami belum selesai sampai di sini, karena ternyata bapak itu masih berstatus dosen honorer. Kami pun tak tahu apakah serang dosen honorer dapat manjadi dpL.

Esoknya, aku bersama beberapa teman jurusan lain berniat menemui seorang guru besar. Kami menunggu bersama di depan ruangannya. Menunggu saat-saat beliau tiba. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Sebelumnya kami sudah pernah menelponnya untuk membuat sebuah janji, tetapi beliau menyuruh kami membuat janji dengan sekretarisnya di kantor. Setengah hari sudah hampir berlalu. Kami berlima masih setia duduk di kursi panjang itu. Masih menunggu kedatangan beliau guru besar. Nihil.

Akhirnya, kami memutuskan untuk megakhiri penantian yang seolah tak berujung itu. AKu memutuskan untuk menemui seorang psikolog di kantornya untuk meminta beliau menjadi seorang dpL. Teman-temanku pun setuju. Mereka segera beranjak untuk mengikuti kuliah selanjutnya.Aku pun beranjak menuju sebuah rumah sakit tempat psikolog itu praktik.

Rumah sakit pemerintah itu berdiri tepat di seberang gedung fakultas kedokteran. AKu pun hanya tinggal berjalan kaki ke sana. Mencari bagian kejiwaan, menemui seorang dosen ahli kejiwaan. Pskiatri. Di sana, aku pun masih haus menunggu karena beliau masih melayani pasiennya. AKu menunggu di kursi tunggu sambil menghabiskan buku bacaan yang kebetulan aku bawa hari itu. Kantuk pun menyerang. AKu masih sedikit bingung mengenai orang yang akan aku temui. AKu tak tahu persis beliau karena sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya.

Setelah menunggu lama, seorang wanita setengah baya keluar dari ruang konseling. AKu dan dia sempat beradu pandang. Aku menyangka itulah orangnya, tetapi masih ada keraguan. Namun, setelah beliau meninggalkan ruangan dengan membawa tasnya, perawat di loket memberi kode padaku. Memberi tahu bahwa itulah orang yang kucari. Aku pun setengah berlari menyusulnya.

Bijaksana, pengertian, terbuka. Itulah kesan pertama yang kutangkap dari sosok wanita yang duduk di hadapanku. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku, beliau pun memberikan sebuah persetujuan yang melegakan hatiku. Alhamdulillah. Aku pun ingat satu hal, bahwa aku belum memperkenalkan diriku padanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s