SehaRi di MenOreh


Di hari jumat yang libur, tertanggal tujuh maret 2008. Hari yang sudah dijanjikan bersama, kami semua akan kembali mengunjungi perbukitan itu. Perbukitan yang membujur menembus Magelang-Jogja-Purworejo, latar sebuah cerita bertajuk “Api di Bukit Menoreh”.
Baru dua minggu, terasa seperti dua bulan. Bukan hiperbolis, tetapi itulah kenyataan. Kerinduan yang senantiasa mengetuk-ngetuk pintu nuraniku. Kerinduan akan ketenangan Menoreh. Kerinduan akan kebersahajaan penduduknya. Kerinduan akan sejuk alamnya, yang senantiasa menyambut mesra dengan kesunyian.
Jumat itu kami mencoba menempuh jalan (yang katanya) merupakan jalan terpendek menuju Cacaban Kidul. Melalui jalan Godean, memotong jalan menuju arah barat laut, menembus pegunungan, melewati jalur Samigaluh. Lika-liku jalan, belaian angin yang sejuk serta terjalnya tanjakan membuat suasana hati bercampur aduk. Senang, tertantang, cemas, lelah, dibalut kedamaian hati.
Kami tiba di Cacaban Kidul saat iring-iringan jamaah solat jumat mulai terlihat di sepanjang jalan. Hari memang mulai memasuki pertengahannya. Meskipun demikian, mentari siang itu tak menyengat kulit kami sama sekali. Yang ada hanya kesejukan. Hingga tibalah waktu solat jumat sehingga para gadis berdiam sejenak menunggu pelaksanaan solat jumat.
Adalah pak miftahudin, seorang tentor kejar paket B di Jokokasihan telah merencanakan rute perjalanan kami. Hendak dibawanya kami melihat PAUD dan tempat ternak kambing PE lalu singgah sebentar di tempat belajar. Sebelumnya, tak lupa kami bersilaturahmi terlebih dahulu ke rumah pak Lurah Cacaban Kidul (upz! silaturahmi atau isi bensin ya?!)
Maka setelah perut terisi, berangkatlah kami menuju Jokokasihan. Berubah dari rencana semula sebab Pak Lurah harus mengisi pengajian. Maka diputuskan untuk memutar arah perjalanan. Dan dimulailah pendakian itu.
Jalan yang belum tiga tahun dibangun itu sudah cukup parah rusaknya. Jalan aspal pembangun peradaban itu telah berlubang di sana-sini dengan lubang yang cukup dalam. Pendakian pun semakin terasa berat oleh jalan yang seperti pesakitan. Namun Alhamdulillah, kami tiba juga di Jokokasihan. Singgahlah kami di sebuah rumah yang menjadi pusat belajar para peserta kejar paket B. Setelah beberapa sambutan formalitas, diskusi pun dibuka. Seperti biasanya, diskusi dengan warga belajar selalu berlangsung interaktif. Warga belajar di sana kritis dan pro aktif. Itu semua menumbuhkan semangat kami untuk mengabdi selama dua bulan nantinya.
Pukul empat sudah waktu yang ditunjukkan oleh jam di dinding itu. Cuaca mendung dan semakin mendung. Khawatir akan turunnya hujan lebat, kami pun memutuskan untuk langsung turun. Kemalaman dengan medan di sana yang tanpa penerangan cukup berbahaya bagi keselamatan. Dengan berat hati, pamitan dirasakan sangat terburu-buru dan mendadak. Apa boleh buat karena kami tak ada niat untuk menginap di sana. AKan lain cerita tentu jika kami sudah meniatkan untuk menginap.
Tak seberapa jauh dari tempat kami melangsungkan diskusi, hujan turun dengan lebatnya. Mengguyur sepuluh anak manusia dengan tanpa ampun. Maka, petualangan yang sebenarnya pun dimulai. Jalan terjal dan rusak yang diguyur hujan lebat menjadi sangat licin. Motor pun berjalan hampir tanpa hambatan sehingga terpelanting dan membanting penumpangnya berjatuhan di jalan. Tak berani meneruskan, kami memutuskan untuk berjalan kaki, motor dituntun saja. Badan kami biarkan saja semakin basah kena guyuran air dari langit.
Setelah hujan sedikit mereda, barulah kami mencoba untuk mengendarai motor. Akan tetapi, formasi pengendara kali ini sedikit mengalami perubahan. Demi keamanan, mufakat berbicara lelaki lah yang membawa kendaraan. Kami pun meneruskan perjalanan, meski beberapa motor masih mengalami beberapa kendala di sepanjang perjalanan.
Hingga tibalah kami pada sebuah ruas jalan yang longsor. Saat itu waktu ashar hampir habis, jam lima kurang sudah, sedangkan ashar belum kami tunaikan. Kebingungan mencari langgar, kami terpaksa membuang malu untuk menumpang solat di sebuah rumah warga yang tak kami kenal sebelumnya. Solat harus segera ditunaikan agar ketenangan tetap meliputi perjalanan kami. Setidaknya jika kami mati, kami sudah solat. Maka solatlah kami secara bergiliran putra dan putri.
Benarlah seusai solat wajah-wajah ini nampak lebih segar. Setelah berfoto2 sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, perjalanan pun dapat dikatakan cukup lancar. Pukul enam lewat lima belas kami pun tiba di kampus teknik dengan selamat.

One response to “SehaRi di MenOreh

  1. sdr.mu di timur laut menoreh

    Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Wahai ukhti, tidakkah anti tahu bahwa hukum asal gambar itu haram -bila tidak ada kebutuhan syar’i-? Dulu ana kira anti adalah muslimah yang istiqamah….. Sempat-sempatnya antum berFOTO-FOTO ria?
    Tidakkah anti tahu bahwa sesungguhnya anti ini dihormati oleh saudari-saudari anti sebatas dzhahir yang mereka lihat. Anti adalah contoh! Jika anti berbuat maksiat, dosa anti lebih besar daripada perbuatan muslimah yang masih awam, yang belum mengenal manhaj!!! jika anti mengaku sering mengikuti kajian, apalagi BADAR… Apa atsar yang dapat anti tinggalkan untuk teman-teman anti?
    Anti mungkin tidak tahu bahwa di antara saudari-saudari anti yang ‘menghormati anti’…. Tapi jika anti….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s