Taaruf


Kata taaruf tentu sudah tidak lagi menjadi hal yang asing. Meskipun demikian, penggunaan dan pemaknaan kata taaruf sendiri masih banyak yang tidak pas. Berkaitan dengan hal taaruf, memang tidak terlepas dari hal hubungan dua insan dan pernikahan. Dalam perkembangannya, kata taaruf pun seperti menjadi tandingan bagi kata pacaran. Mmmm, apakah benar demikian?

Istilah taaruf biasa digunakan untuk menjelaskan sebuah proses sebelum pernikahan, di mana kedua calon mempelai diperbolehkan untuk terlebih dulu saling mengenal. Pertemuan keduanya dalam taaruf ini haruslah didampingi oleh mahram perempuan. Sebaliknya, yang terjadi sekarang banyak sekali pasangan muda-mudi yang jalan berduaan dengan intensitas sering tanpa ditemani oleh mahram. Lebih dari itu, ngobrolnya pun ngalor-ngidul. Secara umum, masyarakat menamai hal ini dengan sebutan pacaran.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit pengajian telah mulai merebak di masyarakat. Hingga akhirnya telah banyak yang mengetahui bahwa pacaran itu tidak boleh. Disatu sisi ini bisa bernilai positif, tetapi sebaliknya hal ini juga dapat membawa musibah. Musibah yang terjadi adalah beberapa orang lalu memakai istilah taaruf pada pemaknaan yang salah. Tak sedikit yang lalu memakai istilah taaruf untuk aktifitas mereka yang jauh dari makna taaruf sendiri. Adapun alasan penyandaran taaruf mereka adalah karena tujuan mereka adalah pernikahan. Meskipun pernikahan itu masih 2, 3, atau bahkan 5 tahun lagi. Adapun dalam syariat mengisyaratkan agar jika telah dirasakan kecocokan bisa segera dilakukan khitbah alias lamaran yang lalu disegerakan pula pernikahan.

Islam memang mengajarkan pertengahan. Ia mengatur segalanya serba indah, demikian juga dengan hal pernikahan yang memang menjadi kebutuhan fitrah manusia. Maka lahirlah syariat yang lalu mengatur hubungan dua insan yang berbeda jenis. Lahirlah taaruf, khitbah, nikah, dan seterusnya.

Islam juga tetap memberikan hak dalam memilih pasangan hidup. Namun demikian, sebaiknya taaruf tidak diniatkan untuk sekedar coba-coba ingin tahu. Taaruf sebaiknya dilakukan dengan sandaran niat yang ikhlas untuk melangsungkan pernikahan. Taaruf bukan ajang untuk membuat kamus keburukan orang yang lalu jika menemukan ketidakcocokan sedikit saja semua berakhir di proses ini. Sebaliknya taaruf benar-benar dimanfaatkan untuk mengenali calon pasangan. Mengenal sisi positif dan negatifnya yang lalu untuk menjadi bekal dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang akan timbul nantinya…….

One response to “Taaruf

  1. idem ma pertanyaan di atas..
    ditunggu kabar gembiranya..
    hohoho

    _adikmu_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s