Monolog di Sudut Kejemuan


Kurang lebih tiga bulan, bintangku terus meredup. Sinarnya tak dapat memancar terang. Namun, aku masih tak pedulikan. Aku berlalu, sama sekali tek perdulikan bintangku. Terus melangkah, kian jauh. Sementara itu, bintangku terus saja meredup. Alhasil, ilmu yang susah payah aku cari pun tak dapat aku tangkap. Hanya mengalir, berlalu, memantul lalu terhalang.

Ah, dasar aku manusia bodoh. Tau-tau saja aku kelelahan. Sangat lelah, tak kuasa aku menahan rasa lelahku. Aku tersungkur, pada ujung ruang kehidupan bernama kejemuan. Aku terkulai lemas, disekat dinding-dinding penatku. Bosan menyerbuku dari segala penjuru. Aku tak berdaya, sama sekali tak berdaya.

Kucoba pejamkan mata. Namun, aku takut ketiduran. Aku takut terlena dalam istana mimpiku. Takut jika aku tak mau kembali pada kehidupan. Sebaliknya, aku pun tak berani membelalakkan mata, mata ini lelah melihat scene demi scene film kehidupan yang semakin membuatku lelah. Ah…AKu semakin bingung. Aku benar-benar lelah, tak ingin kulakukan apapun.

Tiba-tiba saja, sayup-sayup suara terdengar, sangat halus seolah ia membisikiku.

“Sampai kapan kau mau begini?Diam dan tak lakukan apapun? Sampai kapan? Sampai waktumu habis?”

OH!! Sungguh…, aku tak bermaksud sia-siakan waktuku.Aku hanya ingin sejenak mengambil jarak, karena aku semakin bingung dengan kehidupan hingga aku tak dapat lagi melihat dengan jelas yang mana jalanku.

Lalu, suara itu pun hadir kembali,

“Apakah dengan kau terus begini maka masalah akan selesai? Kapan kau bangkit dan mulai langkah barumu, kawan…?”

Ah…andai kau tahu inginku begini dan begitu. Tetapi tak satupun dukungan aku dapatkan..

“Dengar kawan, jikalau kau yakin itu jalanmu, maka tempuhlah. Jikalau kau ikhlas, kau kan dapat menempuhnya seorang diri meski seberat apapun jalan itu. Selama jalan itu baik, selama tak kau ingkari Tuhanmu, maka yakinlah dan melangkahlah, buktikan bahwa putusanmu itu baik”

One response to “Monolog di Sudut Kejemuan

  1. assalamualaikum
    yaach begitulah hidup . sesemangat apapun kdg rasa jemu tetap dtg menyapa. refreshing tetap diperlukan, bukan untuk menghentikan cita2 tp untuk sekedar mengisi tenaga br. untuk mendapat akselerasi yg lebih hebat.
    bukankah nabi kita juga pernah refreshing sejenak saat amul huzn?! berekreasi dengan ditemani guide Jibril dan tujuannyapun langsung Alloh SWT.
    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s