Jumat Sore Kelabu, Sebuah Peringatan


Sore itu di dalam mobil, aku, adikku dan temanku Retno. Kami pulang dari berenang. Di ring road tiba-tiba langit menjadi gelap berawan tebal dan rintik-rintik lah hujan terlihat membasahi kaca depan. Hujan yang tidak begitu deras dan disertai angin. Membuat penglihatanku terganggu dalam menyupir. Akan tetapi, hujannya juga tidak rata. Sepanjang jalan dari kolam renang menuju kampus teknik UGM di beberapa ruas jalan aku mendapati hujan angin dan sebagian lagi kering meski langitnya mendung. Terlihat olehku, langit daerah jalan kaliurang dan sekitarnya sangat pekat dan berat.Tapi saat itu, aku tak ada firasat apapun.

Aku mengantarkan temanku dahulu ke kampus. Di kampus, hujan hanya rintik-rintik dan anginnya pun tidak kencang. Masih dengan langit yang sangat gelap memayungi seluruh daerah kampus dan sekitarnya. Setelah mengantar teman, adikku meminta untuk diantar ke gramedia ingin membeli komik conan edisi terbaru.

Keluar kampus teknik aku mengambil jalan ke selatan menuju gramedia. Saat itulah hujan disertai angin yang sangat kencang. Tapi belum ada firasat apapun pada diriku. Aku meluncur dengan mobilku melewati rumah sakit DR.Sardjito. Disitulah, segenap rasa cemasku muncul seketika. Hujan di bawa oleh angin yang terasa semakin kencang saja. Aku pun menyaksikan gerobak-gerobak pedagang kaki lima banyak berjatuhan. Sebagian pedagang berusaha mengemasi tempatnya berdagang, sebagian lain gerobak ditinggal terkoyak angin begitu saja. Lalu pohon2 pun oleng dan beberapa sudah rubuh menutupi jalan.

Sontak jalan ke selatan tertutup oleh pohon2 yang berjatuhan. Maka aku dan juga kendaraan-kendaraan yang lain berbelok arah ke timur melewati kompleks fakultas KU dan KG. Disitu aku melihat angin semakin kencang. Keadaan jalan porak poranda. Orang-orang berteduh berombong-rombong dengan wajah-wajah berbayang kecemasan. Mobil-mobil, bus-bus, berjalan tak keruan di ruas jalan tersebut. Sebagian pun berhenti. Aku mulai kebingungan. Aku semakin tak dapat melihat dengan jelas kendaraan yang ada di depanku. Kurasa, angin semakin kencang mengaburkan pandanganku. Akan tetapi, mobil yang kukendarai masih berada di tengah jalan. Sementara adikku, ia sudah sangat ketakutan dan terus berbicara, “mbak, nanti kalo mobilnya ikut terbang kena angin gimana?”

Aku pun membanting setir ke kiri, mencari parkir disebuah gedung yang tepat berada di selatan perpustakaan fakultas kedokteran umum. Tetapi sungguh menakutkan, setelah mematikan mesin mobilku, ternyata kurasakan angin yang sangat kencang dan di atas genteng-genteng gedung berterbangan. Kebingunganku bertambah, apakah aku cukup diam saja di dalam mobil ataukah harus keluar dan berlindung di dalam gedung itu mengingat angin yang semakin kencang saja.

Dan bismillah kuputuskan untuk keluar dari mobil saja. Ketika membuka pintu, baru saja menarik engsel pengait… WUZZZZZZZ… angin dengan kerasnya membanting pintu mobilku keluar sehingga berbunyi bekas patahan pada kejadian ditabrak motor yang lampau. Baru saja aku mengangkat sebelah kakiku keluar mobil, lagi2 angin menerpa dengan kasarnya, sangat kasar! Aku pun berusaha sekuat tenaga melawan gaya angin untuk melangkah keluar mobil, berdiri dan menutup pintu mobilku. Sementara genteng-genteng masih berjatuhan dari atap gedung, sungguh sangat berat aku melangkahkan kaki-kakiku. Gaya angin terlalu kuat untuk kulawan. Masya Alloh!

Alhamdulillah, aku bisa meraih gedung yang jaraknya hanyalah beberapa meter dari tempat aku menaruh mobilku. Di dalam gedung rupanya banyak juga orang yang sedang berlindung. Dua orang mahasiswa, seorang mahasiswi, dua orang Bapak yang nampaknya bertugas menjaga gedung tersebut, seorang bapak yang belakangan aku tau dia adalah pedagang kaki lima yang warungnya ikut ambruk diterpa angin, serta seorang bapak yang juga kebetulan sedang berteduh kebingungan. Suasana saat itu sangat mencekam. Langit yang gelap dan berat seakan menahan beban, angin yang bertiup semakin kencang, suara pecahan genteng-genteng yang berjatuhan, hingga air hujan pun masuk memenuhi ruangan gedung tersebut. Benar-benar aku hampir menitikkan air mata jika saja aku tak harus berpura-pura tenang dan tersenyum untuk memberi kesan ketenangan bagi mahasiswi yang kala itu berteduh .bersama. Terlihat ia sangat cemas dan sedikit tertekan. Kami menunggu, memandang keluar gedung penuh kecemasan sembari mulut-mulut ini terus berucap asma Alloh.

Aku baru tahu ketika ada pemberitaan bahwa apa yang aku alami adalah peristiwa puting beliung yang sukses memporak porandakan daerah kampus UGM khususnya dan beberapa daerah lain di sekitarnya. Alloh, lagi-lagi kau tampakkan kemarahan alam kepada kami. Kami tak tau apakah ini peringatan ataukah sudah menjadi adzab bagi kami. Wallahu a’lam, perlulah aku untuk intropeksi atas diri ini yang tak kunjung siap menyambut kematian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s